Banyak yang bilang angka sembilan adalah angka pembawa keberuntungan. Apakah itu berarti negeri kita akan menuai kemasyhuran di tahun 2009? Hal ini tidak ada hubungannya dengan kepercayaan sebagian orang awam tentang kemujuran angka sembilan. Karena, seluruh kemajuan hanya dapat diraih dengan daya dan upaya yang sepadan. Lalu, apakah di tahun 2008 yang hanya dalam hit
ungan jam akan kita tinggalkan ini, kita sudah berbuat upaya tuk kemajuan negeri? Mari kita renungkan kembali seluruh tragedi penting yang terjadi setahun belakangan ini di ranah ibu pertiwi.
Pada awal tahun 2008 kita telah kehilangan salah satu pemimpin besar kita yang sangat terkenal dengan Program Pelita-nya, yaitu Bapak Soeharto. Bapak negeri yang sempat membawa Indonesia berswasembada pangan ini terpaksa harus kita relakan kepergiannya pada 27 Januari silam. Kemudian, pada April 2008 seiring dengan merebaknya film “Fitna” yang sempat mengguncangkan dunia karena telah mengecam agama Islam, akhirnya beberapa ISP di Indonesia melakukan pemblokiran beberapa situs seperti Youtube, Multiply, MySpace, Metacafe, Liveleak, dan Rapidshare.
Pada Mei 2008, tepatnya tanggal 20 Mei, di Gelora Bung Karno dirayakan peringatan seabad Kebangkitan Nasional yang bertemakan “Indonesia Bisa”. Di acara inilah Presiden Susilo Bambang Yudhoyono melontarkan orasinya yang berbunyi, “Saya ajak seluruh Indonesia untuk menyatukan tekad menuju Indonesia maju dan sejahtera di abad 21.”. Entah kenapa setelah beliau mengajak bangsa kita untuk maju dan sejahtera, ternyata kesengsaraan dan kemelaratan malah semakin bertambah seiring dengan naiknya harga BBM yang semakin mencekik rakyat jelata. Tentu kita masih ingat bahwa terhitung sejak tanggal 24 Mei lalu, pemerintah resmi menetapkan harga premium menjadi Rp 6.000, minyak tanah Rp 2.500 dan solar Rp 5.500 per liter. Berbagai SPBU di area Kalsel pun terlihat lengang, sepi, seperti tak berpenghuni.
Pada Juni 2008, dunia semakin kacau dengan harga minyak yang semakin tinggi. Tepatnya tanggal 11 Juni lalu, minyak dunia akhirnya mencapai titik tertingginya dengan harga US$ 147 dolar per barel. Perlu diketahui, bahwa harga ini merupakan kenaikan tertinggi sejak terjadinya krisis minyak pada dekade 70-an dan 80-an.
Pada Juli 2008, akhirnya tim KPU mengumumkan sebanyak 34 parpol yang berhak mengikuti pemilu legislatif Indonesia 2009. Di bulan ini pula, kita sempat dikejutkan oleh kejadian tragis kasus “mutilasi” massal dengan pelaku Verry Idham Henryansyah setelah ditemukannya tubuh korban mutilasi Heri Santoso di kawasan Ragunan pada 12 Juli silam. Ryan pun akhirnya tertangkap pada Selasa sore 15 Juli pukul 16.00 WIB.
Pada Agustus 2008, Indonesia akhirnya mengukir prestasi dengan meraih posisi ke-42 berbekal peraihan 1 medali emas, 1 perak, dan 3 perunggu pada Olimpiade Musim Panas 2008 yang diadakan di Beijing.
Pada September 2008, beberapa produk susu dan makanan yang berasal dari Cina ditarik peredarannya di negeri kita karena dicurigai mengandung melamin.
Pada Oktober 2008, pasar saham di Bursa Efek Jakarta terpaksa ditutup selama lima hari terhitung sejak tanggal 8 hingga 13 Oktober. Hal ini merupakan salah satu dampak dari krisis finansial Global yang juga menimpa negara kita. Perdagangan di BEJ ditutup karena terjadi penurunan signifikan pada Indek Harga Saham Gabungan (IHSG) hingga level 1.451,669.
Pada November 2008, bangsa kita ikut berkoar-koar seiring dengan terpilihnya Barrack Obama sebagai Presiden Amerika Serikat ke-44. Selain itu, setelah enam tahun, satu bulan, 27 hari pasca kejadian bom Bali 1, akhirnya Amrozi, Imam Samudera, dan Ali Ghufron dieksekusi di hadapan regu tembak pada Sabtu 8 November tengah malam di Lapangan Nirbaya, Nusakambangan, Cilacap.
Pada Desember 2008, akhirnya Negeri kita didera oleh hujan yang selama ini kita tunggu-tunggu karena perubahan iklim global sehingga merubah jadwal pertemuan negeri dengan musim kemarau dan penghujan. Namun, ternyata iklim pun saat ini tidak bersahabat dengan kita. Di bulan ini, Kalimantan Selatan yang dulu hanya mengenal kata “calap” , tapi kini kita sudah mulai mengenal kata “banjir” ketika mesim hujan tiba. Berbagai daerah di Kalsel pun akhirnya tertimpa Banjir. Tapi, tak hanya di Kalsel namun juga di berbagai provinsi di Indonesia ikut merasakan bencana ini.
Saatnya kita mengoreksi diri, apakah kita sudah memberikan yang terbaik untuk nusa dan bangsa di tahun 2008 ini? Pada kenyataanya, sebagian dari kita hanya berfoya-foya dan mengeruk kekayaan ibu pertiwi tanpa memperhatikan kelestariannya. Apabila orientasi kita hanya untuk mengejar tahta dan harta, maka kita juga harus siap untuk menuai bencana. Mungkin saat ini kita hanya melihat banjir. Namun tidak menutup kemungkinan bencana yang lebih besar lagi akan menimpa di tahun depan apabila kita tidak segera berbenah diri.
Oleh karena itu, sudah saatnya kita menyongsong pergantian tahun ini dengan merenungi segenap jejak langkah kita yang salah dan telah membuat ibu pertiwi menderita. Mari kita tunjukkan bahwa Zamrud Khatulistiwa akan kembali bersinar di tahun yang akan datang. Dan kita harus percaya bahwa hidup pasti punya pilihan yang baik maupun buruk, dan setiap pilihan punya konsekuensi masing-masing, dan setiap konsekuensi butuh pengorbanan, dan setiap pengorbanan didasarkan atas daya dan upaya. Saatnya kita tunjukkan daya dan upaya kita demi kemajuan Nusa dan Bangsa Indonesia!