Lomba Fotografi Tema “healthy life style”

Huh….akhirnya selesai juga proses pemotretan gue….Sumpah!!…Susah banget buat nyari angel yang bagus…

Dari sekian banyak jepretan foto yang telah gue ambil, inilah beberapa foto yang gue anggap layak dan cukup bagus lah….hehehe :) :)

Harap dinilai ya….pilih foto mana yang menurut kalian paling bagus….OK!!…Thanks before :) :)

Aku Sehat Karena Bunda

Aku Sehat Karena Bunda

 

Olahraga Pagi, Sejuk dan Sehat

Olahraga Pagi, Sejuk dan Sehat

 

Aku suka Renang, Sungaiku adalah Surgaku

Aku suka Renang, Sungaiku adalah Surgaku

 

Lihatlah Lompatanku yang Indah...Indahnya Renang di sore hari...

Lihatlah Lompatanku yang Indah...Indahnya Renang di sore hari...

 

Membuat bumbu dapur di "batang"...APakah ini sehat??

Membuat bumbu dapur di "batang"...APakah ini sehat??

Nah….itulah lima foto yang berhasil aku abadikan…..Jadi,,yang mana nih yang paling bagus….Langsung dipilih ya!!>…Truz…tulis aja jawabanmu di Comment…THANKS BEFORE…. :) :)

Kaleidoskop 2008 dan Harapan Petiwi untuk Negeri

 

 

 

Banyak yang bilang angka sembilan adalah angka pembawa keberuntungan. Apakah itu berarti negeri kita akan menuai kemasyhuran di tahun 2009? Hal ini tidak ada hubungannya dengan kepercayaan sebagian orang awam tentang kemujuran angka sembilan. Karena, seluruh kemajuan hanya dapat diraih dengan daya dan upaya yang sepadan. Lalu, apakah di tahun 2008 yang hanya dalam hitMegahnya Perayaan Tahun Baruungan jam akan kita tinggalkan ini, kita sudah berbuat upaya tuk kemajuan negeri? Mari kita renungkan kembali seluruh tragedi penting yang terjadi setahun belakangan ini di ranah ibu pertiwi.

Pada awal tahun 2008 kita telah kehilangan salah satu pemimpin besar kita yang sangat terkenal dengan Program Pelita-nya, yaitu Bapak Soeharto. Bapak negeri yang sempat membawa Indonesia berswasembada pangan ini terpaksa harus kita relakan kepergiannya pada 27 Januari silam. Kemudian, pada April 2008 seiring dengan merebaknya film “Fitna” yang sempat mengguncangkan dunia karena telah mengecam agama Islam, akhirnya beberapa ISP di Indonesia melakukan pemblokiran beberapa situs seperti Youtube, Multiply, MySpace, Metacafe, Liveleak, dan Rapidshare.

Pada Mei 2008, tepatnya tanggal 20 Mei, di Gelora Bung Karno dirayakan peringatan seabad Kebangkitan Nasional yang bertemakan “Indonesia Bisa”. Di acara inilah Presiden Susilo Bambang Yudhoyono melontarkan orasinya yang berbunyi, “Saya ajak seluruh Indonesia untuk menyatukan tekad menuju Indonesia maju dan sejahtera di abad 21.”. Entah kenapa setelah beliau mengajak bangsa kita untuk maju dan sejahtera, ternyata kesengsaraan dan kemelaratan malah semakin bertambah seiring dengan naiknya harga BBM yang semakin mencekik rakyat jelata. Tentu kita masih ingat bahwa terhitung sejak tanggal 24 Mei lalu, pemerintah resmi menetapkan harga premium menjadi Rp 6.000, minyak tanah Rp 2.500 dan solar Rp 5.500 per liter. Berbagai SPBU di area Kalsel pun terlihat lengang, sepi, seperti tak berpenghuni.

Pada Juni 2008, dunia semakin kacau dengan harga minyak yang semakin tinggi. Tepatnya tanggal 11 Juni lalu, minyak dunia akhirnya mencapai titik tertingginya dengan harga US$ 147 dolar per barel. Perlu diketahui, bahwa harga ini merupakan kenaikan tertinggi sejak terjadinya krisis minyak pada dekade 70-an dan 80-an.

Pada Juli 2008, akhirnya tim KPU mengumumkan sebanyak 34 parpol yang berhak mengikuti pemilu legislatif Indonesia 2009. Di bulan ini pula, kita sempat dikejutkan oleh kejadian tragis kasus “mutilasi” massal dengan pelaku Verry Idham Henryansyah setelah ditemukannya tubuh korban mutilasi Heri Santoso di kawasan Ragunan pada 12 Juli silam. Ryan pun akhirnya tertangkap pada Selasa sore 15 Juli pukul 16.00 WIB.

Pada Agustus 2008, Indonesia akhirnya mengukir prestasi dengan meraih posisi ke-42 berbekal peraihan 1 medali emas, 1 perak, dan 3 perunggu pada Olimpiade Musim Panas 2008 yang diadakan di Beijing.

Pada September 2008, beberapa produk susu dan makanan yang berasal dari Cina ditarik peredarannya di negeri kita karena dicurigai mengandung melamin.

Pada Oktober 2008, pasar saham di Bursa Efek Jakarta terpaksa ditutup selama lima hari terhitung sejak tanggal 8 hingga 13 Oktober. Hal ini merupakan salah satu dampak dari krisis finansial Global yang juga menimpa negara kita. Perdagangan di BEJ ditutup karena terjadi penurunan signifikan pada Indek Harga Saham Gabungan (IHSG) hingga level 1.451,669.

Pada November 2008, bangsa kita ikut berkoar-koar seiring dengan terpilihnya Barrack Obama sebagai Presiden Amerika Serikat ke-44. Selain itu, setelah enam tahun, satu bulan, 27 hari pasca kejadian bom Bali 1, akhirnya Amrozi, Imam Samudera, dan Ali Ghufron dieksekusi di hadapan regu tembak pada Sabtu 8 November tengah malam di Lapangan Nirbaya, Nusakambangan, Cilacap.

Pada Desember 2008, akhirnya Negeri kita didera oleh hujan yang selama ini kita tunggu-tunggu karena perubahan iklim global sehingga merubah jadwal pertemuan negeri dengan musim kemarau dan penghujan. Namun, ternyata iklim pun saat ini tidak bersahabat dengan kita. Di bulan ini, Kalimantan Selatan yang dulu hanya mengenal kata “calap” , tapi kini kita sudah mulai mengenal kata “banjir” ketika mesim hujan tiba. Berbagai daerah di Kalsel pun akhirnya tertimpa Banjir. Tapi, tak hanya di Kalsel namun juga di berbagai provinsi di Indonesia ikut merasakan bencana ini.

Saatnya kita mengoreksi diri, apakah kita sudah memberikan yang terbaik untuk nusa dan bangsa di tahun 2008 ini? Pada kenyataanya, sebagian dari kita hanya berfoya-foya dan mengeruk kekayaan ibu pertiwi tanpa memperhatikan kelestariannya. Apabila orientasi kita hanya untuk mengejar tahta dan harta, maka kita juga harus siap untuk menuai bencana. Mungkin saat ini kita hanya melihat banjir. Namun tidak menutup kemungkinan bencana yang lebih besar lagi akan menimpa di tahun depan apabila kita tidak segera berbenah diri.

Oleh karena itu, sudah saatnya kita menyongsong pergantian tahun ini dengan merenungi segenap jejak langkah kita yang salah dan telah membuat ibu pertiwi menderita. Mari kita tunjukkan bahwa Zamrud Khatulistiwa akan kembali bersinar di tahun yang akan datang. Dan kita harus percaya bahwa hidup pasti punya pilihan yang baik maupun buruk, dan setiap pilihan punya konsekuensi masing-masing, dan setiap konsekuensi butuh pengorbanan, dan setiap pengorbanan didasarkan atas daya dan upaya. Saatnya kita tunjukkan daya dan upaya kita demi kemajuan Nusa dan Bangsa Indonesia!

Duh Capeknya hari ini!!

Aduh, hari ini aku capek banget!! Habis pulang kuliah, masih harus ngerjain tugas yang seabrek banyaknya. Dengan sistem kuliah yang saat ini menggunakan sistem problem based learning, membuat aku harus bekerja dan belajar lebih keras. Hari ini, aku mulai mempelajari skenario tentang seseorang yang kecelakaan dan cara mengatasinya. Menurut skenario, orang ini belum dapat donor darah, dan akhirnya dia dikasih dokter infus NaCl 0,9%. Aku bingung deh, gunanya infus NaCl 0,9 % itu untuk apa ya?

Sekarang aku mau browsing dulu nih!! Mau cari segala informasi tentang infus!! Tentang pendonoran darah, hemoglobin, siklus sirkulasi darah, dll!! Aku juga harus membuat catatan dan presentasi nih!! Duh capek banget!! Tapi, aku harus semangat!!

Pokoknya, aku bertekad dalam waktu 3,5 tahun aku sudah harus dapat gelar S.ked and then co’as deh!! Mudah-mudahan!! Amin!!!

17 Agustus? Usung Nasionalisme atau Bendera Partai??

17 Agustus adalah hari kemerdekaan kita. Merdeka dalam arti bebas. Bebas dalam arti bebas dari jeratan penjajah. Penjajah di sini bukan hanya bangsa portugis ataupun Belanda yang dulu menjajah kita. Lalu, apa arti penjajah sebenarnya? Siapakah penjajah yang seharusnya kita usir dari bangsa kita?

Keramaian dan kemegahan upacara peringatan hari kemerdekaan di Istana Merdeka adalah sebuah pertanda datangnya hari yang ditunggu-tunggu oleh segenap bangsa Indonesia. Di hari itulah kita dapat mengingat kembali perjuangan bangsa kita dalam menciptakan sebuah titik kehidupan yang merupakan awal dari sebuah kebebasan dari jeratan penjajah yang dpaat kita nikmati hingga saat ini. Lalu, apakah kita sudah benar-benar merdeka? 

Inilah pertanyaan yang seharusnya kita munculkan di dalam diri kita saat ini. Merdeka. Apa artinya merdeka bagi kita semua? Apakah kita sudah benar-benar bebas dari penjajah?

Menurut saya, seandainya sudah tidak terajajah maka kehidupan kita akan menjadi jauh lebih baik dari dulu. Tapi, buktinya ternyata banyak sekali penurunan kualitas kehidupan yang bangsa kita alami. Mulai dari penurunan kualitas moral, kualitas nasionalisme, pendidikan, kesehatan, dan berbagai aspek lainnya. Salah satu contoh penurunan kualitas nasionalisme di negara kita adalah dengan adanya kenyataan bahwa saat inikita lebih mencintai bendera partai daripada bendera merah putih. Mengapa saya katakan demikian? Lihatlah sejenak realita tersebut ketika anda sedang jalan-jalan di pusat kota misalnya. Kebanyakan di pinggir jalan terpampang bendera bendera partai dan wakil-wakil partai tersebut yang berebut kursi dan tahta.

Kalau hanya berebut kursi dan tahta, berarti pemimpin kita saat ini tidak memimpin demi bangsa, melainkan demi derajat dan kekuasaan. Itulah fenomena sosial yang kita alami saat ini. Kita tidak bisa mengelak, kalau banyak sekali orang-orang yang hanya mementingkan harta dan tahta. Tapi, apakah layak jika pemimpin bangsa juga mempunyai pandangan yang sama seperti itu? Setahu saya, Bung Karno dan Bung Hatta tidak pernah mengusulkan dirinya untuk menjadi presiden dan wakil presiden dulu. Tapi, sekarang sangatlah banyak orang orang yang bahkan tidak mempunyai pengalaman di bidang politik malah ikut ikutan mencalonkan dirinya sebagai wakil daerah. Sebut saja, Syaiful Jamil, Primus Yustisio, Diding Bagito, dan Purwacaraka. Mereka semua adalah seorang artis (Public Figure) yang tidak mempunyai background pendidikan politik ataupun pengalaman di dunia politik. Uniknya lagi, seakan-akan hal ini menjadi sebuah trend di kalangan artis saat ini. Ketika salah satu artis berhasil menjabat sebagai seorang wakil daerah, jejak yang sama pun diikuti oleh artis lainnya.

Dengan hanya bermodalkan kepopuleran, apakah mereka mampu memimpin bangsa dan memuat kehidupan bangsa kita menjadi lebih baik? Ya, mereka memang hanya duduk sebagai wakil bupati atau wakil walikota. Mungkin, anda berpikir bahwa posisi itu tidak terlalu penting dan hanya sebagai pelengkap waliokta dan bupati. Justru inilah yang seharusnya menjadi sasaran berpikir kita. Apakah benar bupati dan walikota yang membonceng mereka berpengalaman dalam dunia politik serta siap memimpin bangsa dengan baik.

Cobalah anda berpikir sejenak dengan logis. Kalau seandainya, si calon bupati dan walikota tersebut benar-benar mencalonkan dirinya untuk memimpin dan mengabdi kepada masyarakat serta ingin membuat kehidupan masyarakat menjadi lebih baik, tentulah mereka akan memilih calon yang berpengalaman di dalam dunia politik untuk mendampinginya sebagai calon wakil walikota atau wakil bupati.

Kalau mereka memilih pendamping yang ternyata tidak mempunyai background politik dan hanya mengutamakan kepopuleran seorang artis, itu berarti tujuan mereka hanya satu yaitu TAHTA. Jadi, itulah yang terjadi saat ini. Tidak seharusnya kita memaknai nasionalisme sebagai pengejaran tahta di bawah naungan bendera partai politik.

Yang seharusnya kita lakukan untuk memaknai sebuah nasionalisme adalah pengejaran prestasi dan pencapaian nama Indonesia yang HARUM di mata dunia, Di bawah naungan kekhidmatan penghayatan dan pengabdian kepada sang saka MERAH PUTIH.

Hello world!

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!